Saudara-saudara yang dirahmati Tuhan, memang benar firman-Nya yang mengatakan bahwa manusia dilarang menggosip. Meskipun ada sisi baiknya, yaitu menambah pengetahuan sehingga tidak dianggap kuper, serta meningkatkan rasa percaya diri Anda di lingkungan pergaulan sehingga Anda tidak cengok, tapi sekali-kali jangan! Jangan bergosip! Jangan bergosip yang tidak pasti maksudnya.
Karena Saudara-saudara, aku baru saja mengalami yang namanya SALAH BERGOSIP! Haha. Stupid. Jadi ceritanya aku mendapat gosip dari orang yang dipercaya, bahwa temanku jadian sama seseorang. Sebut saja yang laki-laki Yref dan yang wanita Otis. Ketika itu juga tim gosip (baca: aku dan 2 teman wanita lain) langsung mengkroscek berita itu karena yang laki-laki adalah teman bermain dan online kami. Kami buka laptop, mengonekkan laptop dengan dunia maya, dan berselancarlah kami di sana. Blog dan Friendster menjadi sasaran empuk. Berlagak sok detektif, kemringet, deg2an, baterai laptop yang sekarat, ditambah koneksi yang lemot semakin membuat kami bersemangat. Tapi sayangnya info yang bisa kami dapatkan cuma sedikit, seupil malah.
Sudahlah, nggak apa. Yang jelas kami langsung merencanakan online malamnya untuk ‘menyerang’ si Yref. Strategi pun disusun. 6 orang dikumpulkan dalam sebuah conference, tanpa mengundang Yref tentunya. Kemudian dengan cukup alot menyuruh seseorang di antara kami untuk membuka ‘hot gossip’-nya. Daripada terlalu lama, akhirnya aku dengan sangat PD-nya menuliskan : Yref jadian sama Otis. Bermacam reaksi pun muncul. Tidak percaya, kaget, tapi ada keanehan yang terjadi. Salah satu temanku (yang sekarang menjadi teman kuliahnya Otis) cuma bilang, “Oh, iya. Yref Irbas kan?” Loh-Loh-LOH!! Teman kami kan Yref Nawaites?!
Gubrak! Jadi ternyata Saudara-saudara, wanita bernama Otis itu memang jadian, tapi bukan sama Yref teman kami, melainkan Yref lain. Memangnya Yref di dunia ini cuma ada 1?! Padahal kami sudah sangat seru membicarakannya. Sudah menyusun strategi perang status di YM, merumuskan kata2 pertama yang akan diluncurkan untuk ‘melabrak’ si Yref, bahkan ada seorang teman yang merelakan waktu rapatnya hanya untuk mendengar gosip yang sangat ‘HOT’ ini. Haha. Kasian deh lu. 
Karena ini adalah sebuah kedodolan yang amat sangat, akhirnya kami pun membongkar kedok kami di hadapan Yref. Membiarkan dia turut mengetahui apa yang terjadi selama ini, ups, sehari ini. Dan semoga dia bangga tidak menyesal mempunyai teman-teman yang detektif korban gosip abis ini. Kasian deh kitaa..
Huah. Sudah lama nggak jalan2. (SOK) sibuk gitu deh. Online aja nggak pernah, mau jalan2. Tapi teman ePh.civillization yang suka online bareng memang mulia hatinya, mengajakku jalan2 hari Jumat malam kemarin. Planningnya sih cuma mau nonton James Bond terus makan Gudheg Pawon. Habis itu yang perempuan (baca: aku, Nisa, Ussy) mau nginep di rumah Ria. Tapi ternyata nggak jadi. Planningnya kacau gara2 nggak dapet tiket James Bond. Padahal jam midnite loh, kami kira sepi, ternyata sold out. Huhu. Jadi begini ceritanya..
Setelah pergi dari Amplas jam 10.30 PM, mutung nggak dapat tiket, kami berenam (dengan dua personil laki2: Ian dan Ferry) memutuskan nonton di Moviebox. Film bodoh dan menjijikkan yang dipilih Ian (baca: Jackass I) membuat kami ingin segera pergi. Jadwalnya jam 12 AM film selesai, tapi jam 11.30 PM kami sudah menuju rumah Ria untuk berganti kendaraan. Dan jeng-jeng! Jadilah kami berenam uyek2an di dalam mobil menuju ke next destination.
Gudheg Pawon. Beberapa minggu yang lalu sudah pernah sih ke sana. Tapi Ussy dan Nisa belum pernah, jadi ya mari kita ke sana. Selesai makan, Nisa nggak mau langsung pulang. Nggaya dia, habis UTS boleh pergi nginep sama Mamanya, terus minta jalan. Huu.
Awalnya sempat bingung mau ke mana, sudah jam 12 AM begini. Tapi, oke, sekarang kita muterin Alun-alun Kidul menuju Alun-alun Utara. Rencananya mau foto2 dulu di Tugu, yah ternyata rame banget. Ada ‘pemotretan’ juga di sana. Ya sudah, ke jembatan Kewek saja. “Kayak Dony tu lo”, kata Ferry. Setelah nitip mobil di K-24 dengan bayaran vitamin C beberapa bungkus, kami jalan ke atas jembatan. Bukan jembatan sebenarnya, itu rel kereta api. Ternyata pemandangannya bagus lo, background nya kayak di luar negeri. Hehe. Sempat ada 2 kereta api lewat. Hii, sereem. Keretanya benar2 di samping kami. Cuma bisa jongkok, teriak-teriak, dan tertawa bersama. “Ini gila! Ini gila! Hahaha.”. Kami habiskan waktu sampai pukul 2:15 AM. Orang lain pada baru bangun buat Tahajud, kami malah sedang bergila-gilaan. Astaghfirullah.
Belum puas juga, kami menuju ke Bunderan UGM. Foto2 lagi di sana. Berhubung setelah itu waktu ternyata menunjukkan pukul 3 AM, Ian pun berkata, “Tanggung ki wes yah mene. Aku bali Subuh wae. Ndelok sunrise wae yo!” (Nanggung nih sudah jam segini. Aku pulang Subuh aja. Lihat sunrise saja yuk!) Aku dan Ria paling keras menolak usulan itu. GIla apa?! Kami berdua ada acara di kampus besok paginya. Aku jam 7 AM, Ria jam 7.45 AM. Mau tidur jam berapa?! Tapi kami kalah suara (ya iyalah, 4 banding 2 gitu). Huhu. Akhirnya TERPAKSA ngikut deh. To the next and must be the last destination. Pantai Depok.
It’s totally a dumb idea. Mosok mau ke Pantai Depok di pagi buta?! Tapi marilah, kita lengkapi kebodohan dan kegilaan ini sampai pagi. Perjalanan satu jam. Aku nggak begitu tahu apa yang terjadi di jalan karena aku memilih tidur. Aku pikir Psycho Trip ke Solo akan melelahkan dan memaksaku untuk bangun. Jadi ya aku harus men-charge energiku. Sampai Pantai Depok kami menemukan masjid. Sepi, nggak ada orang di sana. Alhamdulillah. Ada tikar pula. Seperti berkomunikasi dengan pikiran, yang perempuan mengambil 2 tikar, dibawa ke ruang sebelah tempat sholat, digelar, di tata, dan blek, kami tidur bergelempangan. Yang laki2 tidur di karpet ruang sholat. Waktu itu menunjukkan pukul 4 AM, harusnya sudah Subuh, tapi sebentar ah, tidur dulu. Kalau aku sih, sedang kedatangan ‘teman baik’ jadi santai2 saja. Haha. Rupanya setengah jam juga sudah cukup untuk sekedar menghibur mata kami yang minta dipejamkan. Keluar dari masjid menuju pantai, wahh, ombaknya besarr, langitnya mendung, sunrise jadi nggak begitu terlihat. Kali ini aku memberi batasan keras, jam 5 AM harus sudah pergi dari pantai, “Aku kumpul jam tujuuuuuhh” rengekku. Biarin dimarahin, dibilangin nggak asik, gimana lagi dong?
Kecewa sebenarnya nggak melihat sunrise, tapi berhubung waktu sudah menunjukkan pukul 5 AM, aku memaksa pulang. Di jalan yang kami lakukan adalah meratapi ketidakpercayaan kami pada apa yang kami lakukan malam itu. Semalam bersama, tanpa planning, sampai pagi. Mulai dari makan, ke atas rel dengan 2 KA melintas, ke UGM, sampai ke Pantai Depok. U crazy guys! (but i’m proud of us :D).
p.s: mamaku sudah lihat foto-foto kita. dan aku nggak dimarahin. jadi kapan2 mari kita ulangi lagi! ^^
Sudah lihat iklan salah satu bank yang sepertinya sedang gencar diputar? Itu lho, yang banyak banget orang di bawah tokoh utama. Yang tokoh utamanya untuk berjalan saja seakan digulirkan oleh tangan-tangan orang-orang di bawahnya. Iklan itu mengingatkan aku tentang salah satu buku koleksiku. Buku yang paling mengubah aku. THE ALCHEMIST.
“Ketika engkau menginginkan sesuatu dengan sunguh-sungguh, maka sebenarnya seisi dunia sedang membantumu mewujudkannya.”
Kira2 begitu kata2nya. Kupikir itu hanya ungkapan hiperbol Paulo Coelho. Tidak bermakna dan hanya terjadi di dunia novel. Tapi ternyata pesan di buku itu benar. Aku sudah membuktikannya. Dunia juga sepertinya sudah membuktikannya. Anda belum? Coba saja! 

(Fotonya Mas Edo, dari fotografer.net. Kiri: Kopma UGM. Kanan: Baliho ambruk)
Astaghfirullah. Nggak nyangka sampai separah itu. Serem pas lihat di koran. AKu pikir cuma hujan biasa, karena waktu itu aku lagi servis motor, jadi di dalam ruangan, nggak begitu ngerti keadaan luar. Tapi sampai rumah sih memang Mama cerita di jalan mengerikan. Hujan deres banget, anginnya kenceng pula, jadi jalannya harus pelan-pelan gitu. Sorenya, aku ke dokter gigi. (kenapa2nya besok diceritain lagi ya!) Nah, bu dokter yang cantik itu bilang, “UGM kena badai ya Mbak Dea? (nama depanku-red)”. WHAT?? Langsung kaget aku. Dan yang terbayang di pikiranku saat itu kampusku! Kampus Psikologi tempatku menuntut ilmu! (halah). Ambrukkah? Akan liburkah? Haha. Nggak ding, bercanda. Tapi saat itu sih aku masih nggak percaya UGM kena badai, hoax paling.
Baru hari ini aku percaya. Tadi pagi aku janjian sama Mr.Burger masalah danus Psychoustic (nonton ya! nonton! tgl 29 nov di sport hall kridosono! ^^). Di sana ternyata ada orang lain yang juga lagi mau mengajukan prososal. Mbak Wahyu, marketingnya mengenalkanku pada Mas2 dan Mbak2 itu. Begitu tahu aku dari Psikologi UGM, Mas2nya langsung tanya, “Gimana Mbak UGM? Parah?”. Welah, iki tenanan to? Lha dari kemarin lihat berita nggak ada terus sih berita tentang itu. “Wah, nggak tahu Mas, saya belum ke sana. Tapi katanya sih kena badai”, “Iya katanya Mbak, ancur gitu katanya. Cuma UGM tok lo tapi itu kejadiannya”. HEH? Waduh, terasa ganjil ini kata-kata Masnya. Oke, di record dulu.
Sodara-sodara, mungkin Anda menilai aku terlihat kampung sekali. Nggak nonton berita di TV, nggak baca koran. Untuk yang pertama sudah dijelaskan, aku menunggu beritanya tapi nggak muncul2 juga. Sudah lihat Jogja TV lo padahal. Salah timing kayaknya. Yang kedua, koranku baru datang jam 9. Nggak tahu kenapa. Jadi ya maklum kalo aku jadi ndeso banget nggak tahu perkembangan jaman.
Cut, cut, lanjut! (Mbak Esti, pinjem yaa ^^) Setelah ngobrol2 sebentar, mereka pulang, aku merampungkan misiku datang ke sana, dan pulang. Sampai di rumah, sore tadi aku cerita tentang obrolan di Mr.Burger di tengah keluarga. Kata Mama, “Itu teguran buat UGM. Harusnya UGM habis ini langsung introspeksi.” Sudah kuduga sebelumnya. Aku sama mamaku memang punya cara pandang yang mirip2. Langsung deh habis itu Mama berbicara panjaaangg. Tentang UGM yang mahal, mencekik, membatasi yang mau pada kuliah. Membandingkan dengan masa lalu beliau saat kuliah di sana. Begitu murah, begitu terjangkau, begitu benar-benar terseleksi siapa yang pantas duduk di sana. Hhh. IRI.
Memang, meskipun aku selalu berusaha menanamkan pada diriku, bahwa sistem apapun, jalur apapun yang ditawarkan UGM kepada para calon mahasiswa baru pasti ada positifnya, PASTI, tapi ternyata aku tidak bisa mengelabuhi hati dan idealismeku yang ternyata suaranya lebih kudengar. Sistem u-know-what mengacaukan UGM menurutku. Hanya satu yang bisa kuraba, sistem itu membuat teman2ku yang kurang mampu, bisa mendapat SPMA Rp 0,00 saat mendaftar. Selebihnya belum tahu. Yang jelas, sistem ini membuat UGM materialistis, hedonis, tidak lagi merakyat. Bayangkan saja, ada sebuah fakultas yang membuka 8 kelas tiap tahunnya, 5,5 kelasnya diisi oleh mahasiswa hasil seleksi u-know-what itu! Fakultas yang diangankan mencetak orang-orang yang bisa berpenghasilan besar, eh ternyata sebelum masuk fakultas itu mahasiswanya ‘diwajibkan’ sudah punya penghasilan besar itu sendiri. Dan rupanya kemarin gedung fakultas itu termasuk yang menjadi ‘korban’ badai. Got the meaning?
Aku tidak pernah menyalahkan teman2q yang memilih jalur itu. Bukan salah mereka. Salahnya adalah ketika sistem itu ada dan menjadi opsi. Jadi tidak salah kalau ada yang memilih, setiap orang punya hak untuk itu. Dan kenapa aku tidak memilih sistem itu sebagai jalurku? Idealismeku yang telah aku bentuk dan kini membentukku sehingga aku harus mengikutinya. Itu saja. Bukan masalah yang lain. Cukup prinsipku menjadi pegangan hidupku.
Semoga (entah kapan tapi semoga secepatnya) apabila ini memang merupakan teguran dari kesalahan, bisa segera diperbaiki. Tapi kalau tak merasa salah, semoga secepatnya introspeksi. Wallahu a’lam.
Yth. Orang Kaya
di negeri tercintaku
INDONESIA
Dengan hormat.
Dengan ini saya sampaikan sebuah tulisan dari banyak inspirasi yang terendap lalu bergumul di benak saya. Sekiranya bapak, ibu sekalian sudi membacanya.
Anda ingin Indonesia menjadi Negara maju. Bukankah begitu?
Anda ingin sedikit bangga menjadi Warga Negara Indonesia ketika keluar negeri. Benar demikian?
Anda ingin orang-orang miskin tidak membebani Anda. Betul itu?
Anda juga ingin nilai rupiah tidak terus-menerus merosot. Sepakat?
Tapi tengok yang kiranya Anda lakukan.
Anda (mungkin) terus meremehkan Indonesia
Anda (mungkin) dengan bangganya selalu membeli produk-produk impor
Anda (mungkin) terus saja mencurangi negara
Anda (mungkin) ingin dollar-dollar yang Anda punyai bisa ditukarkan dengan rupiah bernilai besar
Hey, what the hell are you doing?!
Anda sebenarnya ingin membangun atau menghancurkan Indonesia secara perlahan? Saya bukan mau ikut kampanye ‘si-bapak-yang-lagi-heboh-di-tivi’ itu. Hanya saja, Anda sebagai orang berduit mempunyai kemampuan yang besar untuk turut membangun negara. Mengapa Anda tidak memanfaatkannya?
Biarkan uang Anda berputar, bergulir indah di tangan-tangan anak bangsa
Izinkan karya-karya indah Nusantara menghiasi seluruh negeri
Beri kesempatan pada rakyat untuk membuktikan hasil kerja mereka
Belilah produk buatan Indonesia!
(Dan yang paling penting, ajarkan anak-anak Anda untuk menghilangkan rasa bangganya memakai merk-merk yang dijual di Planet Surf )
Kalau Anda mengatakan produk Indonesia yang bagus mahal harganya.
Itu karena mereka memproduksi dalam jumlah yang sedikit. Karena mereka takut barang mereka tidak laku. Itu karena mereka tahu Anda lebih bangga membeli produk impor.
Kalau Anda mengatakan produk Indonesia kualitasnya tidak terjamin.
Itu karena Anda tidak memberi mereka kesempatan bersaing. Anda tidak mau menggulirkan dana yang Anda punyai lewat di tangan mereka. Bukankah setiap modal membawa konsekuensi pada kualitas barangnya?
Bapak, ibu yang terhormat, maaf, sekiranya tulisan ini Anda anggap lancang. Sejujurnya masih ada yang belum saya tuliskan di sini. Namun saya takut, sepertinya jumlah kata yang saya tulis berbanding terbalik dengan minat baca bapak, ibu terhadap tulisan saya. Meski begitu, saya berharap semoga tulisan di atas sudah bisa menggambarkan sesuatu yang terendap di benak saya. Maaf atas segala khilaf. Semoga Anda berkenan.
Salam,
Dea Siti Hafsha
Filed Under (per-aku-an, psikologi) by tialtiul on 21-09-2008
Kemarin Jumat aku mengikuti salah satu syarat mata kuliah pendidikan agama Islam, yaitu AAI (Asistensi Agama Islam). Bahasa SMA-nya mentoring gitu deh. Dan karena kemarin baru pertemuan pertama, jadi belum membahas ‘aneh-aneh’, baru kenalan saja dan sedikit bermain psikologi (ehm :P). Namanya Jendela Johari atau dalam bahasa Inggrisnya Johari Window.
Pertama yang kami lakukan adalah duduk melingkar. Lalu tiap orang akan mendapat giliran untuk ‘dinilai’ oleh teman-teman yang lain. Baik sifat, karakter, atau kesan yang bisa ditangkap selama hampir sebulan kami saling mengenal. Semua berlaku jujur dan terbuka. Yang sedang dinilai tidak perlu merasa tersinggung atas penilain mereka karena masing-masing kami sudah membawa bekal kolom seperti di bawah ini.
JENDELA JOHARI
|
OPEN/FREE AREA
|
BLIND
|
|
HIDDEN
|
UNKNOWN
|
Kolom pertama, Open/Free Area. Di sini adalah tempat kami menuliskan karakter yang sudah kami ketahui dan orang lain ketahui. Public consume.
Kolom kedua, Blind. Kolom ini adalah tempat kami menuliskan apa saja yang kami tidak tahu tapi justru orang lain tahu. Mungkin bisa dikatakan ini adalah kolom ke-unaware-an terhadap diri sendiri.
Kolom ketiga, Hidden. Tidak terlalu penting untuk diisi, karena pun kalau diisi, karakter-karaketer yang hanya diri kami sendiri saja yang tahu, orang lain tidak tahu. Private room.
Kolom keempat, Unknown. Sesuai namanya, di kolom ini adalah tempat menuliskan apa-apa yang kami dan orang lain tidak ketahui. Tidak perlu diisi.
Jadi, seperti yang aku katakan di atas, tidak perlu tersinggung. Tidak ada yang benar ataupun salah terhadap penilaian semacam itu. Yang ada hanyalah pengetahuan masing-masing individu terhadap dirinya sendiri. Anggap saja hal-hal yang menyinggung (kalau ada) adalah karakter yang belum disadari, jadi tuliskan saja di kolom Blind.
Nah, yang menarik dari pernyataan teman-temanku, ternyata ada 2 karakterku yang masuk ke wilayah Blind, yaitu tidak terduga dan pemimpin. Aku nggak begitu mengerti ketika temanku bilang ‘tidak terduga’. Tapi katanya, maksud dari tidak terduga adalah aku sering melakukan hal-hal yang orang lain mungkin tidak akan kepikiran untuk melakukannya (tapi aku masih belum jelas, ini konteks positif atau negatif :D). Kenapa masuk Blind? Karena aku merasa selama ini yang kulakukan normal dan wajar-wajar saja (membela diri?). Hehe. Nah, yang kedua ini yang aku sangat blind, karakter pemimpin. Haha. Sepertinya ngaco saja temanku berkata seperti itu. Aku tidak merasa seorang leader je, bahkan sering merasa tidak bisa mengemban amanat dengan baik.
Let’s see. Tadi jam 7pm, budeku mengirim SMS pada tanteku. Isinya menyuruh kami melihat tayangan Metro TV. Ternyata acaranya Mario Teguh. Ya sudah, dilihat saja, tidak ada ruginya juga. Rupanya aku justru mendapat sesuatu yang positif dari tayangan tersebut. Di situ Mario Teguh mendefinisikan arti pemimpin. Wah, pas sekali dengan yang sedang bercokol di otakku. Menurutnya, pemimpin adalah orang yang bekerja untuk membuat orang lain di bawahnya menjadi maju, membuat orang rata-rata menjadi luar biasa. Benar kan, it’s blind categories. I think I’ve never been doing this before.
Yang kedua, leader is not position, it is action! Jangan coba-coba menjadi pemimpin kalau kita tidak bisa berbuat untuk bawahan kita. Mereka sebenarnya menggantungkan meskipun hanya secuil harapannya pada kita. Did I ever make someone’s wishes come true? I’m not sure. It is right to put it in my blind column.
Tapi terima kasih loh, teman-teman tercinta untuk penilaiannya. Aku terharu atas pengetahuan kalian tentangku. Semoga aku bisa jadi orang yang tidak terduga dengan konteks positif dan pemimpin yang kalian maksud suatu hari nanti. Dan terima kasih juga, yang masuk ke Open/Free Area ada banyak, ada 6! Secara kita baru kenal sebulan, angka segitu sudah hebat lo! Hihi. Nuwun 
Filed Under (my daily, ngemeng) by tialtiul on 05-09-2008
Tadi waktu aku lagi ngaca-ngaca di kamar mandi (kamar mandi memang inspiring!), aku tiba-tiba teringat kisah masa kecilku. Mungkin lebih tepatnya bukan kisah, tapi ‘ide-ide brilian’ masa kecil.
1. AKU PENGEN CELAT ALIAS CEDAL ALIAS CADEL
Entah, aku sendiri juga heran kenapa begitu. Seingatku, dalam benakku waktu itu celat itu keren aja gitu.
2. AKU PENGEN PUNYA TAHI LALAT ALIAS ANDENG-ANDENG DI BAGIAN DAGU ATAU SEKITAR BIBIR ATAU DI PIPI
Alhasil aku sering meminjam pensil alis mamaku untuk bikin tahi lalat palsu. Padahal juga kayaknya nggak jadi tambah cantik gitu. Haha.
3. AKU PENGEN CAMEH ALIAS CAKIL ALIAS RAHANG BAWAH LEBIH PANJANG DARI RAHANG ATAS
Nah, kalau yang ini baru merasa lebih cantik. Dulu loh..
Aduh-aduh, masa kecilku… -_-”
Filed Under (lingkungan, thoughts) by tialtiul on 29-08-2008
Jogjakarta yang sangat kucintai ini memang memiliki banyak nama. Kota Budaya, Kota Gudeg, Kota Pariwisata, Kota Perjuangan, juga Kota Pelajar. Karena julukan terakhir inilah tidak heran pendidikan di propinsi ini seakan menjadi barometer pendidikan di Indonesia. Hal tersebut menyebabkan tingginya minat belajar di Jogjakarta. Banyak pelajar dari seantero nusantara berebut bangku sekolah ataupun kuliah di sini. Mungkin berasa pintar kali ya kalau sekolah atau kuliah di Jogja? Hihi.
Aku pun sebagai miba (mahasiswi baru) sangat merasakan itu. Setiap kali berbicara dengan teman baru, aku langsung bisa membedakan mana yang pendatang dan mana orang Jogja (at least wong Jowo). Semua itu terbaca dari logat masing-masing. Lucu juga sebenarnya merasakan kekayaan Indonesia. Mendengar orang-orang satu ras berbicara dengan bahasa daerah mereka masing-masing menambah wawasanku dalam berbahasa. Memang bersyukur kita mempunyai bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. (Hore!)
Tapi ada satu hal yang mengganggu. Menurutku ada satu bahasa daerah yang terlalu terbawa dalam pergaulan masa kini. Mungkin awalnya tidak salah, mereka menggunakan bahasa itu untuk berkomunikasi dengan rekan sedaerah asal, tapi kok rasanya sekarang menjadi berlebihan ya? Seakan katrok, ndeso, tidak elegan, tidak gaul, dan tidak keren kalau tidak menggunakan kata-ganti-orang-kedua-yang-wangun-banget-itu. Secara ya, kata-kata itu selalu diperdengarkan di televisi gitu loh.
Bahkan dari cerita seorang teman, karena di ‘daerah tersebut’ sapaan “Mas” dan “Mbak” adalah panggilan untuk orang-orang berkasta rendah (pembantu, sopir, dkk), saat ia mengikuti ospek di sebuah fakultas di Kampus nDesa, dia harus memanggil seniornya dengan sebutan “Kakak”. Dan hal itu tidak lain dan tidak bukan adalah karena para senior (atau mungkin panitia ospeknya?) kebanyakan berasal dari luar Jogja (mungkin dari daerah ‘itu’). What the #*$&^ ?!
Kalau hanya mendengar cerita dari temanku di atas memang mangkel rasanya. Tapi untungnya tidak semua seperti itu. Ada juga fakultas yang membuat perspektif ini menjadi seimbang. Kata seorang temanku yang lain, ia dan teman-temannya justru diwajibkan memanggil seniornya dengan sebutan “Mas” dan “Mbak”. Panitia ospeknya wong Jowo kabeh nih kayaknya.
Ah, apapun itu aku yakin tiap orang mempunyai idealisme. Mau waton melu wangun atau konservatif semua kembali pada individu masing-masing. Tapi yang jelas aku tidak ingin Jogjaku ‘dijajah’. Setidaknya, walaupun tidak menggunakan “Kulo-Panjenengan”, tapi “Aku-Kamu” atau “Saya-Anda” lebih universal rasanya. Lagipula, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung kan? Betul begitu? 
Filed Under (akademik, my daily) by tialtiul on 25-08-2008
Yiihaa!! I am the real MAHASISWI now. Hihi. Setelah ospek yang bernama PRK (Psikologi Rumah Kita) dijalani selama 4 hari kemarin, hari ini aku sudah masuk kuliah. WOW. Asiknya.
Btw, aku belum cerita tentang PRK ya? PRK-nya seru, nggak seperti waktu SMA dulu. Tugas nggak menumpuk, panitia nggak galak, para dosen dengan wejangan yang menyentuh, motivasi dari alumni, top deh! Benar-benar pelatihan, bukan perploncoan. Tapi sejujurnya ospek model begini memang jadi agak nggak terkenang sih, cuman berbekas maknanya di hati. Whuz, omongane Maksudnya, apa yang kami dapat bisa kami aplikasikan sampai kapan tauk. Long lasting advices gitu deh. Termasuk jawaban dari postingaku yg lalu sudah kudapat. HORE! Nuwun sedoyo..
Dan hari ini aku sudah masuk kuliah. Asik sih, tapi aneh rasanya. Kuliah dari jam 7.30-12.00 kok baru dapat 2 mata kuliah. Kalau waktu sekolah dulu kan, dalam waktu sepanjang itu sudah berjubel mata pelajaran dijejal ke dalam otak. Hehe. Mau jajan-jajan juga jadi takut karena ada endemi hepatitis A di sekitar UGM. Lupa bawa bekal sih dari rumah. Phiuh.
Anyway wish me luck to manage my own self ya. Then, CU! Aku mau menikmati minggu pertama kuliahku dulu nih. Hehe. ^^
Filed Under (Uncategorized) by tialtiul on 14-08-2008
Tulisan ini seharusnya sudah kuposting seminggu yang lalu. Tapi karena terjadi kesalahan teknis, koneksi error sehingga draftnya ilang, maka baru bisa kuposting sekarang. Dan terutama lagi, postingan ini atas permintaan Bariah yang waktu itu nggak ikut.
Jadi, minggu lalu, tepatnya tanggal 5 Agustus 2008, ePh Civillization-ku reunii! Yes! Itupun ndadak pake pembatalan acara dulu sebelumnya. Tadinya kami mau menginap di villa keluarganya Ima di Kaliurang. Tapi karena member yang bisa ikut cuma sedikit, akhirnya dibatalkanlah acara itu. Dan demi terkumpulnya mayoritas member, maka akhirnya reuni jadi kami laksanakan di Ledok Gebang Fishing and Resto, daerah Candi Gebang. Acaranya: MAKAN-MAKAN dong! Hihi. Giliran makan-makan aja, baru deh pada datang. Dasar.
Dan aku, Ima, Saila, Yudi, dan Dony berniat mentraktir mereka. Kami sekedar ingin melaksanakan syukuran atas bertambahnya usia kami (dan berkurangnya umur kami), kecuali Dony yang akan melanjutkan kuliah di Bina Nusantara (Binus) Jakarta. Jadi untuk dia, ini adalah farewell party-nya.
Thanks to Ussy dan Nisa yang sudah mau menghubungi dan mengoordinir teman-teman. Mengumpulkan mereka di Amikom karena banyak yang belum tahu tempatnya dan memastikan semua oke. Cup cup muah buat kalian. Dan sesuai jadwal, kami semua harus berkumpul di Ledok Gebang jam 12pm. Ima dan Dian yang berangkat sendiri sudah sampai duluan di sana. Disusul Ussy-Nisa dkk. Nah lo, malah aku yang telat. Hehe. Aku sama Kodox rapat dulu euy! Rapat para Delayota-fresh-graduate. Hihi. Pokoknya setelah aku sampai sana sudah komplit, tinggal nunggu makanan datang. Asiknya.
Semua terasa lancar, sampai pada sekitar jam 1.30pm ada seseorang yang belum datang juga. Ialah Yudi. Bukan apa-apa, (karena sebenarnya ada belasan orang yang nggak datang) tapi karena dia salah satu pentraktir! Gawat aja gitu kalau dia sampai nggak datang. Ternyata setelah ditelpon Saudara-saudara, dia LUPA! Bagus. Tapi akhirnya dia datang kok, meskipun harus diancer-anceri lewat telpon dan jadi rada lama. Huff, selamat deh.
Acara pun berakhir dengan foto-foto bersama. Cihuy! ^^
(Wes, kui Bar. Fotone nyusul yo, aku lagi ngenet ning kompie soale. Hehe.)
|
|