
Berbagi cerita dan ilmu adalah hal yang selalu kunanti. Kapan pun, di mana pun, dengan siapa pun, selama hal tersebut bisa me-refresh otak, aku akan selalu mencoba untuk menghargainya.
Begitu pun ketika Syakaa Organizer mengadakan Jogja Islamic Book Fair untuk kesebelas kalinya. Wow. Luar biasa! Insya Allah, mulai tanggal 1 sampai 7 Mei 2009 mendatang, Gedung Mandala Bhakti Wanitatama bisa diprediksi akan penuh dengan orang-orang yang haus ilmu. Subhanallah.. ^_^
Dengan alasan tersebut (ahaha), aku dan seorang teman kemarin ikut mendatangi pameran tersebut. Sebenarnya aku lupa bahwa pada hari itu kami sudah janjian. Untunglah saat diingatkan temanku, uang di dompet sedang dalam keadaan tidak terlalu mepet, mama juga kebetulan nitip dibelikan sate Domba Afrika (btw, enak loo. Yah, worth it lah sama harganya
), jadi bisa dipinjam dulu uangnya. Hihi.
Singkat cerita, kami berdua sampai di TKP (Tempat Kejadian Pameran). Mulailah mata kami menjalari buku-buku yang dipajang. Begitu menggiurkan. Kalau bawa uang sejuta, mungkin buku-buku itu akan kuborong. Hehe. Tapi alhamdulillah, uang di dompet bisa menjadi pengendali nafsuku saat itu. Hehe.

Akhirnya sampailah kami di sebuah stand. Di sana aku menemukan banyak buku ‘lezat’. Tapi rupanya ‘hanya’ dua buku yang mampu membuatku mantabh untuk membelinya (aslinya sih karena belum mencermati semua stand saja. Hehe). Dan aku tidak menyesaall! Yes! Kedua buku tersebut KEREN skalii. Republik Genthonesia dan Prophetic Learning. Keduanya belum selesai kubaca, tapi dari hasil scanning-ku, Republik Genthonesia (Note: gentho dalam bahasa Jawa berarti preman) berisikan kritik-kritik tajam terhadap permasalahan yang dihadapi bangsa ini, baik masalah moral, agama, ataupun sosial dengan bungkus yang cukup segar dan tidak menggurui bahkan cenderung berisi humor yang cukup sarkastik menurutku. Sedangkan Prophetic Learning berintikan “cara belajar yang benar bagi seorang muslim”. Buku cerdas harus dibaca sampai tuntas!
Anyway, aku jadi ingin sedikit berbagi ilmu yang kudapat dari 20 halaman Prophetic Learning yang sudah kubaca (tuh kan, baru 20 halaman saja sudah bisa membuatku berapi-api. Hehe). Ada satu hal menarik yang ditulis Dwi Budiyanto di sana. Sebuah pertanyaan yang sangat sentral, yaitu mengapa pengetahuan yang selama ini kita pelajari tidak terlihat di keseharian tingkah laku kita? Dwi bahkan pernah bertanya pada seorang calon doktor dari Psikologi, kenapa beberapa orang psikologi justru tidak bisa berempati selaiknya orang-orang yang tidak mempelajarinya secara khusus? Dan apa jawaban sang calon doktor? “Kan psikologi untuk Anda!”. WHAT?! Aku benar-benar tidak habis pikir dengan jawaban itu. Tapi meskipun cukup pathetic, dari jawaban itu kita justru bisa menangkap benang merah permasalahan di sini: jarak yang masih cukup jauh antara pengetahuan yang kita pelajari dengan pola pikir dan pola sikap.
Seperti yang dikutip Dwi Budiyanto dari buku milik Anis Matta, Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga, yang diambil dari gagasan Imam al-Ghazali, ada tiga tahapan untuk memasuki wilayah kepribadian seseorang:
1. Teori
2. Aplikasi
3. Pengalaman
Selama ini yang kita pelajari hanya melulu teori-teori-dan teori dengan jarang kita tahu aplikasi dari teori-teori tersebut. Dengan tanpa pernah tahu aplikasinya, apakah mungkin kita mendapatkan pengalaman? Aku rasa itulah sebabnya muncul ketidaksinkronan antara ilmu dengan sikap yang dipertanyakan Dwi Budiyanto dan Dea Siti Hafsha :P.
Mungkin inilah alasan salah seorang dosenku menekankan pengaplikasian dari berjubel teori yang telah beliau sampaikan. Kami selalu ditekan untuk bisa memberi contoh kasus dari teori-teori tersebut. Saking concern-nya pada masalah aplikasi teori, seorang kerabatnya dari Swiss bernama Lillemor Adrianson, yang saat itu menjadi dosen tamu di kelas kami, menceritakan hal tersebut. Aku jadi semakin bangga pada dosenku yang satu itu. Prof. Djamaludin Ancok, Ph.D rupanya benar-benar berusaha mengaplikasikan teori yang sudah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari dan menyebarkan ‘virus’ tersebut pada orang banyak. Alasannya? Agar ilmu yang dipelajari benar-benar bermanfaat.
Ayoo, bersama-sama kita mencari aplikasi dari teori yang sudah kita pelajari! Insya Allah, pengalaman akan mudah didapat dan ilmu akan terinternalisasi pada diri pribadi sehingga akan berguna bagi nusa, bangsa, agama, dunia, dan akhirat! Amiin..
nb: kalau nanti ada hal menarik dari kedua buku tersebut, kuusahakan untuk kuposting lagi. tunggu ya!