• Asumsi ini saya dapat ketika saya berbelanja di swalayan dekat rumah kemarin sore. Seperti layaknya swalayan pada umumnya, swalayan dengan nama P (inisial sebenarnya) ini memiliki beberapa lorong. Setiap lorong memiliki klasifikasi barang tertentu untuk memudahkan konsumen mencari barang yang diinginkan.

    Di sana saya sedikit terdiam ketika saya punya kesempatan mengamati salah satu lorong. Di lorong tersebut berjajar berbagai produk minuman instan, seperti kopi, teh, susu, dan sirup2. Banyak sekali merk dan jenisnya. Tapi yang paling menarik adalah, mata saya yang menyapu lorong melihat banyak hal yang NAMPAK-BEDA-NYATA-SAMA. Rupanya hampir setiap merk mengeluarkan produk minuman dengan embel-embel: LOW-FAT. Wow! Ini membuat saya jadi bertanya, “Kenapa banyak produk semacam itu ya? Yang saya tahu, sebelum perusahaan membuat produk baru, pasti ada survey dulu terhadap kebutuhan dan keinginan masyarakat. Apa ini bisa diartikan sebagai cerminan kebutuhan masyarakat terhadap barang-barang berlabel LOW-FAT?”

    Studi yang dilakukan Himpunan Studi Obesitas Indonesia pada tahun 2004 yang melibatkan lebih dari enam ribu orang menyatakan penderita obesitas mengalami kenaikan sampai 11,4% dihitung sejak tahun 1989 (http://www.antara.co.id/view/?i=1241614095&c=NAS&s=KES). Saya pikir inilah salah satu alasan logis terciptanya banyak produk semacam itu. Banyaknya orang gemuk rupanya berbanding lurus dengan kebutuhan akan barang-barang serba low-fat.

    Lantas apa hubungannya kegemukan dengan sikap suka menyalahkan orang lain?
    Begini. Dalam ilmu Psikologi ada sebuah teori menarik, Self Serving Bias namanya. Teori ini menyebutkan, bahwa suatu keberhasilan dicapai karena usaha diri sendiri atau diatribusikan secara internal. Sedangkan sebaliknya, apabila terjadi kegagalan maka hal tersebut akan diatribusikan secara eksternal, atau bahasa lainnya kegagalan lebih disebabkan faktor lingkungan.
    Maka, jika kita kaitkan permasalahan di awal, yaitu mengenai kegemukan, dengan teori Self Serving Bias, maka akan terjadi:

    orang-orang gemuk = memilih produk LOW-FAT = Self Serving Bias

    Alasannya? Karena orang tersebut merasa bahwa kegagalan mereka menjaga atau menurunkan berat badan adalah karena kesalahan lingkungan. Lingkungan adalah pihak yang harus bertanggung jawab terhadap kegemukan, sehingga muncullah permintaan pasar mengenai produk-produk low-fat. Atau dalam artian lain, kegemukan adalah salah lingkungan sehingga lingkungan juga harus bertanggung jawab ‘menurunkan’ berat badan dengan mengeluarkan produk-produk low-fat.

    Lalu?

    Coba amati lagi definisi dari Self Serving Bias. Saya kok merasa begitu picik ya, orang yang melakukan Self Serving Bias. Bayangkan ketika suatu keberhasilan hanya ditentukan oleh diri sendiri dan kegagalan merupakan kesalahan orang lain, bijakkah sikap seperti itu? Tidak adakah dukungan lingkungan ketika tercapai suatu keberhasilan atau tidakkah dilakukan introspeksi diri ketika ada kegagalan?

    Begitu juga dengan kasus kegemukan di atas. Menurut saya, yang seharusnya diperbaiki bukanlah kandungan makanan ataupun minumannya. Bukan susunya yang seharusnya berlabel LOW-FAT, bukan juga kopinya yang tanpa gula, tapi apa yang dimakan dan bagaimana polanya yang seharusnya perlu diperhatikan.

    Saya rasa meningkatnya angka obesitas, sebenarnya lebih disebabkan oleh pola makan yang salah. Lingkungan memang turut andil dalam hal ini karena ‘menyediakan’ banyak makanan enak yang tidak sehat, tapi kita sebagai manusia punya akal, punya kesempatan memilih. Kontrol diri terhadap bujuk rayu lingkungan sepertinya lebih solutif daripada menggantungkan diri pada produk-produk berlabel LOW-FAT.

    (Anyway, jadi menguliahi diri sendiri nih, hehe  =p)

  • politik 22.05.2009 5 Comments

    Seorang kawan bertanya padaku,

    “Menurutmu, Indonesia tu gimana sih? Harusnya gimana ya?”

    Ah, pertanyaannya retoris. Aku hanya menjawabnya dengan senyum. Ia melanjutkan bicaranya.

    “Orang-orangnya yang korupsi kaya sekarang nih, gimana ya menurutmu?”

    Aku masih tersenyum. Entah retoris dan bukan. Yang jelas sebenarnya aku hanya malas menjawab. Kurasa kawanku yang satu itu lebih pandai melontarkan bahkan menjabarkan jawaban. Iseng sekali dia bertanya padaku. Tapi melihat ia menunggu jawaban, aku pun menyerah.

    “Kata temanku, potong satu generasi! Dan aku setuju dengan itu. Hapus orang-orang yang sedang duduk ‘di sana’, gantikan dengan mereka yang baru. Orang-orang muda dengan idealisme yang tinggi. Kamu mungkin?”, jawabku diiringi tawa renyah.

    “Potong generasi? Mungkin ya…”

    “Kalau isinya tetap seperti sekarang, mantan-mantan mahasiswa yang dulunya aktif di BEM, rajin demo, rajin menyuarakan keadilan dan bla-bla-bla, ketika masuk ke pemerintahan yang seperti sekarang, ah dia akan ikut sistem! Korupsi itu sistem! Untuk mengubahnya nggak cukup seorang-dua orang-tiga orang. Satu partai-dua partai pun belum tentu bisa. Tapi kalau kamu dan teman-temanmu dan kita bisa bertahan dengan idealisme seperti saat ini mungkin saja Indonesia berubah..”

    “Hm..”

    Benarkah ‘teori’ku? Korupsi dan lain2 sudah menjadi sistem di pemerintahan kita. Karena tiap melihat berita, isinya selalu saja tentang korupsi, korupsi, dan korupsi. Sepertinya tidak afdhol kalau tidak ikut korupsi di pemerintahan. Mengejar kekayaan? Terpaksa? Melupakan hati? ..dan pertanggungjawaban? Ah..

    Bagaimanakah keadaan di sana? Sepertinya sulit sekali mempertahankan kebenaran.

    Tapi yang bersih? Tetap ada.. Dan semoga segera membawa perubahan yang nyata. Efek domino kebaikan yang menyebar dan mengubah sistem. Persembahkan Indonesia indah untuk anak, cucu, cicit kita… Amiin..

  • akademik 07.05.2009 No Comments

    “Kehebatan suatu bangsa bukanlah dinilai oleh diri sendiri, tetapi merupakan hasil dari penilaian orang lain”

    Oleh karena itu Fakultas Psikologi UGM bersama dengan Lembaga Mahasiswa Psikologi Fak. Psikologi UGM menyelenggarakan seminar nasional dengan tema: Psychology of Nation.
    Menjelang Pemilihan Presiden pada bulan Juli mendatang, politik menjadi sesuatu yang hangat dibicarakan. Menjadi sebuah daya tarik tersendiri untuk mengetahui bagaimana sebenarnya keadaan bangsa dan negara ini dari sudut pandang dalam dan luar negeri. Terlebih lagi dilihat dari kacamata ilmu Psikologi terutama Psikologi Kebangsaan yang masih jarang diperbincangkan.
    Seminar ini mendatangkan Dr. Margaret Rueffer seorang ahli Psikologi Kebangsaan dari Peace Institute Switzerland sebagai pembicara utama yang sudah mengadakan studi tentang Psikologi Kebangsaan selama 25 tahun terakhir. Beliau akan memberikan materi tentang Psikologi Kebangsaan dan pandangannya terhadap identitas Indonesia dari sudut pandang luar negeri. Selain itu hadir pula sebagai pembicara adalah Prof. Djamaludin Ancok, Ph.D (Guru Besar fakultas Psikologi UGM), Prof. Dr. Faturrochman, MA (dekan fakultas Psikologi UGM), dan Dr. Parni Hadi (Presiden Direktur RRI).
    Acara ini (insya Allah) akan diselenggarakan pada:

    hari/tanggal : ahad, 24 Mei 2009
    waktu : 07.30 - 13.00 WIB
    tempat : Auditorium Fakultas Psikologi UGM acara : seminar nasional “psychology of Nation”

    Pendaftaran dibuka mulai tanggal 10-23 Mei 2009 di sekretariat Lembaga Mahasiswa Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.
    Fasilitas yang tersedia berupa snack, seminar kit, sertifikat, dan makan siang. Untuk informasi lebih lanjut dapat mengirim email ke tya.hafsha [at] yahoo [dot] co [dot] id atau menghubungi A’am (0857-2966-4447).
    tambahan: bagi yang berminat untuk menjadi sponsor atau donatur bisa menghubungi Dyah (0899-5065-813) atau email ke tya.hafsha [at] yahoo [dot] co [dot] id.
  • Berbagi cerita dan ilmu adalah hal yang selalu kunanti. Kapan pun, di mana pun, dengan siapa pun, selama hal tersebut bisa me-refresh otak, aku akan selalu mencoba untuk menghargainya.

    Begitu pun ketika Syakaa Organizer mengadakan Jogja Islamic Book Fair untuk kesebelas kalinya. Wow. Luar biasa! Insya Allah, mulai tanggal 1 sampai 7 Mei 2009 mendatang, Gedung Mandala Bhakti Wanitatama bisa diprediksi akan penuh dengan orang-orang yang haus ilmu. Subhanallah.. ^_^

    Dengan alasan tersebut (ahaha), aku dan seorang teman kemarin ikut mendatangi pameran tersebut. Sebenarnya aku lupa bahwa pada hari itu kami sudah janjian. Untunglah saat diingatkan temanku, uang di dompet sedang dalam keadaan tidak terlalu mepet, mama juga kebetulan nitip dibelikan sate Domba Afrika (btw, enak loo. Yah, worth it lah sama harganya :D ), jadi bisa dipinjam dulu uangnya. Hihi.

    Singkat cerita, kami berdua sampai di TKP (Tempat Kejadian Pameran). Mulailah mata kami menjalari buku-buku yang dipajang. Begitu menggiurkan. Kalau bawa uang sejuta, mungkin buku-buku itu akan kuborong. Hehe. Tapi alhamdulillah, uang di dompet bisa menjadi pengendali nafsuku saat itu. Hehe.

    Akhirnya sampailah kami di sebuah stand. Di sana aku menemukan banyak buku ‘lezat’. Tapi rupanya ‘hanya’ dua buku yang mampu membuatku mantabh untuk membelinya (aslinya sih karena belum mencermati semua stand saja. Hehe). Dan aku tidak menyesaall! Yes! Kedua buku tersebut KEREN skalii. Republik Genthonesia dan Prophetic Learning. Keduanya belum selesai kubaca, tapi dari hasil scanning-ku, Republik Genthonesia (Note: gentho dalam bahasa Jawa berarti preman) berisikan kritik-kritik tajam terhadap permasalahan yang dihadapi bangsa ini, baik masalah moral, agama, ataupun sosial dengan bungkus yang cukup segar dan tidak menggurui bahkan cenderung berisi humor yang cukup sarkastik menurutku. Sedangkan Prophetic Learning berintikan “cara belajar yang benar bagi seorang muslim”. Buku cerdas harus dibaca sampai tuntas! :)

    Anyway, aku jadi ingin sedikit berbagi ilmu yang kudapat dari 20 halaman Prophetic Learning yang sudah kubaca (tuh kan, baru 20 halaman saja sudah bisa membuatku berapi-api. Hehe). Ada satu hal menarik yang ditulis Dwi Budiyanto di sana. Sebuah pertanyaan yang sangat sentral, yaitu mengapa pengetahuan yang selama ini kita pelajari tidak terlihat di keseharian tingkah laku kita? Dwi bahkan pernah bertanya pada seorang calon doktor dari Psikologi, kenapa beberapa orang psikologi justru tidak bisa berempati selaiknya orang-orang yang tidak mempelajarinya secara khusus? Dan apa jawaban sang calon doktor? “Kan psikologi untuk Anda!”. WHAT?! Aku benar-benar tidak habis pikir dengan jawaban itu. Tapi meskipun cukup pathetic, dari jawaban itu kita justru bisa menangkap benang merah permasalahan di sini: jarak yang masih cukup jauh antara pengetahuan yang kita pelajari dengan pola pikir dan pola sikap.

    Seperti yang dikutip Dwi Budiyanto dari buku milik Anis Matta, Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga, yang diambil dari gagasan Imam al-Ghazali, ada tiga tahapan untuk memasuki wilayah kepribadian seseorang:
    1. Teori
    2. Aplikasi
    3. Pengalaman

    Selama ini yang kita pelajari hanya melulu teori-teori-dan teori dengan jarang kita tahu aplikasi dari teori-teori tersebut. Dengan tanpa pernah tahu aplikasinya, apakah mungkin kita mendapatkan pengalaman? Aku rasa itulah sebabnya muncul ketidaksinkronan antara ilmu dengan sikap yang dipertanyakan Dwi Budiyanto dan Dea Siti Hafsha :P.

    Mungkin inilah alasan salah seorang dosenku menekankan pengaplikasian dari berjubel teori yang telah beliau sampaikan. Kami selalu ditekan untuk bisa memberi contoh kasus dari teori-teori tersebut. Saking concern-nya pada masalah aplikasi teori, seorang kerabatnya dari Swiss bernama Lillemor Adrianson, yang saat itu menjadi dosen tamu di kelas kami, menceritakan hal tersebut. Aku jadi semakin bangga pada dosenku yang satu itu. Prof. Djamaludin Ancok, Ph.D rupanya benar-benar berusaha mengaplikasikan teori yang sudah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari dan menyebarkan ‘virus’ tersebut pada orang banyak. Alasannya? Agar ilmu yang dipelajari benar-benar bermanfaat. ;)

    Ayoo, bersama-sama kita mencari aplikasi dari teori yang sudah kita pelajari! Insya Allah, pengalaman akan mudah didapat dan ilmu akan terinternalisasi pada diri pribadi sehingga akan berguna bagi nusa, bangsa, agama, dunia, dan akhirat! Amiin..

    nb: kalau nanti ada hal menarik dari kedua buku tersebut, kuusahakan untuk kuposting lagi. tunggu ya!

  • Aku percaya bahwa tidak ada suatu KEBETULAN di dunia ini. Semua terjadi atas kehendak dan perintah-Nya. Aturan yang Ia mainkan tidak pernah main-main. Selalu ada hikmah yang bisa kita pelajari di belakanganya. Seperti ketika mengikuti training. Ada game, ada pemaknaan. Dan seperti itulah dunia, itulah representasi kehidupan, bagiku. Di tangan-Nya nyawaku tergenggam. Di kuasa-Nya segala sesuatu terjadi.

    Bukanlah suatu kebetulan apabila aku bertemu dengan orang-orang hebat yang pernah kukatakan sebelumnya. Mereka adalah teman-temanku. Di mataku semua temanku hebat, mereka luar biasa, mereka adalah orang-orang sukses. Sukses bukan berarti tidak pernah terantuk batu saat belajar berjalan, atau kepleset saat mencoba berlari. Tapi kemampuan mereka untuk bangkit, untuk mengingatkan aku di sini yang belum apa-apa, itulah sukses. Sukses mengajarkan pada orang lain apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang seharusnya dihindari.

    Kamu bilang ini kebetulan, kita bisa berkenalan, Kawan?

    Kau salah.

    Tuhan sudah menyiapkan jalur indah bagi kita. Ia akan selalu memayungi kita dengan hal-hal yang kita anggap KEBETULAN. Tapi kebetulan bagi kita, adalah rencana bagi Tuhan. Inilah tangan Tuhan yang bergerak. Perlahan menuntun kita menyelesaikan jalur ini dengan segala fasilitasnya. Begitu indah.

    Maka bukanlah suatu kebetulan, ketika aku mengatakan AKU MENCINTAIMU, itulah perasaanku. Aku benar-benar cinta padamu. Bukan pula kebetulan, ketika aku bilang AKU SANGAT SENANG BERKENALAN DENGANMU, maka itulah yang sesungguhnya terjadi. Tidak pernah ada penyesalan dalam diriku sempat berkenalan denganmu

    Kasih sayang ini indah, kawan. Dan Ia yang mempertemukan kita.

    ..

    ..

    Inikah yang dinamakan

    …FILLAH?

  • tulisan 13.04.2009 3 Comments

    waktu itu terik seharusnya menyengat
    menyergap setiap jiwa untuk segera bergegas
    tapi bulir air itu tiba
    membuatku sejenak menghentikan langkah

    “aku tahu waktu-waktu ini adalah bagianmu
    tapi kenapa harus sekarang?!”

    ah, aku menyesal

    namun janji tetaplah janji
    aku yakin ada keberkahan di setiap pemenuhannya

    dan aku benar

    di sana kutemui adamu menjadi penawar
    kubuktikan bahwa canda itu,
    senyummu mengembang di sela rintiknya

    … hujan pun telah menjadi pelangi

    sejak itu, hujan selalu mengingatkanku padamu
    … pada sapta di akhir masa

    ^_^


    (note: sengaja ditulis pake huruf non-kapital semua, biar multi-interpreting. :))
  • keakuan, ngemeng 10.04.2009 2 Comments

    Tadi pagi liat Derings di Trans TV. Bintang tamunya Kristina Akugakrela. Dia nyanyi lagu P.U.S.P.A.-nya ST12 tapi di remake jadi dangdut. Bagus loo..

    Aku jadi seneng dangdut lagi.

    DANGDUT IS THE MUSIC OF MY COUNTRY dehh!! hoho..

  • Dalam ilmu Psikologi ada berbagai macam aliran, salah satunya adalah Gestalt Psychology. Aliran ini percaya bahwa pokok persoalan dalam Psikologi adalah tingkah laku dan pengalaman yang menjadi suatu kesatuan yang total. Diambil dari bahasa Jerman, gestalt yang berarti whole atau keseluruhan.

    Mari kita tes. Coba lihat gambar di atas. Menurut Anda, gambar apakah itu? Saya yakin Anda akan mengatakan bahwa gambar di atas adalah angka 8 (delapan). Adakah di antara Anda yang tidak menemukan angka 8? Saya sarankan Anda untuk periksa ke dokter mata karena gambar di atas adalah alat tes buta warna. :D

    Kembali lagi ke topik. Mungkin hanya sedikit sekali dari Anda atau bahkan tidak ada yang mengatakan bahwa gambar di atas adalah bulatan-bulatan kecil berwarna cenderung hijau dan merah muda yang tidak ada maknanya. Itu karena Anda berpikir secara gestalt, berpikir secara menyeluruh. Tidak lagi melihat unsur pembentuknya, tapi melihat hasilnya. Menyenangkan bukan, ketika kita tahu bahwa bulatan-bulatan kecil itu ternyata bisa menjadi satu kesatuan yang memiliki arti?

    Kesenangan seperti itulah yang sebenarnya didambakan bangsa ini. Kesenangan mengetahui Indonesia ini bangkit, jaya, dan bersatu. INDONESIA. Ya, Indonesia. Indonesia bukanlah hanya presidennya, bukan hanya wakil presidennya, atau hanya DPR-nya. Bukan, bukan mereka. Tapi INDONESIA. Indonesia adalah seluruh bagian yang ada di dalamnya. Ketika bagian-bagian kecil itu bersatu padu, saling membantu, saling mengangkat, memberi jalan pada yang lain, maka harapan yang sejak dulu diimpikan akan cepat terwujud. Indah bukan?

    Tapi apa daya, Indonesia saat ini bukanlah Indonesia yang kita maksud. Indonesia saat ini milik partai politik, milik pejabat pemerintah. Lihatlah mereka berlomba memamerkan pada rakyat seolah hanya mereka yang berjasa, seolah mereka mampu memberi yang terbaik pada bangsa ini. Padahal itu semua tidak ada artinya ketika mereka malah menjatuhkan pihak lain, ingin menang sendiri. Mereka pikir mereka mampu untuk menata dan membangun kembali bangsa ini SENDIRIAN, ha?!

    Ingat Bung, Indonesia ini besar. Jangan sok bisa merawatnya sendirian. Anda butuh pihak lain. Anda butuh adanya kesatuan dalam negeri. Kalau Anda sampai berusaha menjatuhkan bahkan menghancurkan pihak lain, maka Indonesia tidak akan pernah gestalt, tidak akan pernah ada kesatuan yang harmonis! Impian Anda untuk memakmurkan bangsa ini silakan dikubur sendiri.

    Posting ditulis dalam rangka menyambut Pemilihan Umum yang kurang lebih akan berlangsung sekitar 5 jam lagi. Contreng caleg pilihan Anda. Tapi kalau memang bingung, silakan contreng partainya karena dengan begitu maka partai itulah yang akan menentukan sendiri siapa anggotanya yang akan duduk di kursi legislatif. Jangan sampai Golput!

    Saya pernah diberi tahu seorang kawan,

    “Kalau Anda merasa tidak puas dengan keadaan saat ini, tapi Anda hanya diam, tidak melakukan apa-apa, maka KEIMANAN Anda patut dipertanyakan!”

    Pilihlah yang terbaik menurut Anda. Kalau Anda percaya semua partai itu buruk, saya juga. Tapi lebih dari itu, saya masih percaya bahwa di antara yang terburuk masih ada yang terbaik, meskipun sekecil biji zarah yang saya tidak tahu sekecil apa itu.

  • lingkungan 29.03.2009 6 Comments


    Sebelumnya, innalillahi wa inna illaihi roji’un.
    Turut berduka cita bagi korban jebolnya waduk Situ Gintung, Tangerang, Banten
    pada Jumat, 27 Maret 2009. Semoga amal seluruh korban diterima dan diampuni
    segala dosanya. Amin.

     

    Aku benar-benar terkejut saat Jumat sore
    kemarin. Pulang dari kampus baru pukul 5pm, karena setelah kuliah ada rapat
    PSDM LM. Sampai rumah, ingin bersantai sejenak di depan televisi. Tiba-tiba tanteku bilang,

    “Serem ya Situ Gintung..”

    Aku yang tidak mengerti mengenai musibah yang baru saja
    terjadi pun bertanya.

    “Situ Gintung? Apaan tuh?”

    Giliran si tante yang bingung. Mungkin kok
    tumben banget aku nggak update. Iya, sejak pagi aku sudah sibuk bebenah karena harus mengantar adik sekolah. Jadilah aku tidak menonton berita pagi itu. Akhirnya si tante menjelaskan padaku.

    “Itu lo, waduk Situ Gintung di Tangerang,
    jebol. Airnya ngeri banget. Tsunami kecil! Nggak tahu to kamu?!”

    Mamaku yang mendengar perbincangan kami, ikut
    nimbrung.

    “Iya, woh jan masya Allah, ngeri kae. Tsunami
    kecil tenan,”

    Hah? Masya Allah! Tsunami kecil?! Kata-kata itu
    begitu menghenyakkanku. Bagiku, musibah tsunami yang terjadi beberapa tahun
    yang lalu merupakan musibah yang luar biasa besar. Sekarang ada tsunami kecil?
    Seperti apa musibah itu? Ngeri aku membayangkannya.

     

    Tanteku mengambil remote TV dan mencarikan
    berita tentang Situ Gintung untukku. Nah, ketemu! Metro TV. Begitu kulihat
    berita itu, aku hanya bisa terdiam, melongo. Aku tidak pernah menyangka
    sebelumnya, akan kusaksikan lagi musibah air bah semacam itu. Astaghfirullah..

     

    Tapi tunggu! Ada yang lebih menarik
    perhatianku. Masjid itu, ia tetap tegar berdiri diterjang air. Subhanallah.. Lagi-lagi Allah membuktikan kekuasaannya.

    “Persis seperti di Aceh…”, kata tanteku yang dulu menjadi sukarelawan saat tsunami di Aceh.

    Menurut berita yang kubaca, sebenarnya sudah sejak dua tahun yang lalu warga melaporkan adanya keretakan di waduk. Tapi rupanya pemerintah kurang cak-cek menanggapi laporan tersebut. Jadilah bencana itu terjadi. Selain itu, hujan yang terus menerus mengguyur Kampung Gintung juga membuat waduk kelebihan muatan. Waduk yang berkapasistas 1 juta meter kubik itu harus menampung 2 juta meter kubik air. Semalam sebelumnya, sejak pukul 7pm, terjadi keretakan selebar satu meter. Penjaga pun sudah memberikan peringatan pukul 9pm karena keretakan yang terjadi semakin lebar. Akhirnya pukul 4.42am keesokan harinya, waduk pun jebol. Bagai tsunami, air waduk menyapu kampung.

    Tapi rupanya pemerintah, dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum (PU), juga merasa mempunyai alasan yang kuat untuk menyalahkan warga. Menurut mereka, seharusnya warga tidak boleh mendirikan pemukiman di sekitar waduk, karena letak waduk yang lebih tinggi dari daratan. Lantas, bagaimana bisa penduduk memliki sertifikat tanah, siapa yang mengeluarkan? Hal ini yang kemudian masih akan dicari tahu lebih lanjut.

    Ah, Allah selalu mempunyai cara-Nya sendiri. Ketika akhir-akhir ini kudengar banyak cerita mengenai kematian karena sakit yang mendadak, kini yang sehat pun bisa pergi untuk selamanya. Bahkan sekaligus dengan harta bendanya.

    Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya
    kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah),
    yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang
    telah kamu kerjakan.”(QS Al Jumu’ah:8)

    (Lagi-lagi aku merasa diingatkan mengenai kematian. Semoga Allah menjaga imanku dan iman Saudara-saudariku. Amin.)

  • Aiih, gara-gara si ibuk yang satu itu aku jadi menggebu-gebu lagi hunting scholarshipnya. Tapi oh tapi, baru kusadari banyak syarat yang saat ini belum kuraih. Umur lah, semester lah. Tapi, alhamdulillah juga dink, biar mantabs persiapannya. Hoho. :)

    Cita-cita pengen ke luar negeri, pengeeenn banget. Ya gara-gara si ibuk dan adeknya yang “hobi” ke luar negeri itu. Tapi yang ga pake bayar loh ya maksudnya! Teneh kalo pake bayar tinggal pinjem duit aja ke bank (tinggal??? -_-”). Tapi aku yakin lah, someday i’ll get it! It’s a MUST! Kenapa? Karena aku seneng banget, lingkungan belajarku kondusif sekalii. Persaingannya luar biasa tanpa saling menjatuhkan. Ah, teman-temanku ai lop yu! Muah2!

    Bersyukur sekali, aku seperti berada di butik yang lagi sale. Maksud loe? Ya, yang bikin ngiler gitu loh. Hehe. Aku berada di tengah orang-orang sukses dan OTW sukses. I’m SURE that! Teman-temanku adalah orang-orang yang hebat dan aku yakin suatu saat mereka akan menjadi orang yg sukses, bahkan sekarang pun sudah sukses. Yuk, bareng-bareng merajut mimpi. Nanti kalau sudah terajut, kita bareng-bareng meniti lagi. Terus sampe deh!

    Ah, terima kasih Allah, Kau memberiku nikmat seperti ini, nikmat yang tidak ada bandingannya. Semoga Engkau berkenan membawa kami terus bersama meraih sukses sesukses suksesnya menurut-Mu. Tiada yang lebih mengetahui melainkan Engkau Ya Rabb. Amiin.

    (betewe, iki postingane ra moetoe abis deh. hahaha.. ^_^)