..dan dalam beberapa menit saya tiba-tiba tersadar
“Simpan romantisme itu nanti! Beberapa bulan lagi!”
..hanya agar ia lebih nikmat terasa ^_^
..dan dalam beberapa menit saya tiba-tiba tersadar
“Simpan romantisme itu nanti! Beberapa bulan lagi!”
..hanya agar ia lebih nikmat terasa ^_^
Saya memulai berjalan belum lama
tapi saya sudah merindukan romantisme itu
bersama ia, bersama mereka..
Mungkin memang begini
Apanya?
Begini ikatannya, begitu kuatnya
Begini pula jalannya, harus ada jarak agar tak sesak
Saya dan dia, dan dia, dan mereka menjaga ini
tali yang tak boleh terlalu lama dilepas, tak jua terlalu ditarik kencang
meski ada kalanya kami melepasnya, mengencangkan hingga nyaris putus
dan saya rindu dinamika itu
..padahal perjalanan ini baru saja dimulai (lagi)
Hari ini, saya cukup terkejut ketika keluar dari rumah rupanya kabut tebal menyambut saya di luar. Karena ada janji mruput, jadilah saya tetap mengajak Caby (motor cantik-beat-putih saya :D) melintasi kabut itu. Heran, semakin ke utara kok semakin tebal kabutnya. Saya sempat berhenti beberapa kali untuk mengabadikan kabut yang lumayan tebal tersebut. Jalan di depan saya terlihat paling mentok 5 meter. Wah, wah, ada apa ini?
Di jembatan yang saya lintasi saat perjalanan pukul 6-an
Stadion Maguwoharjo dan Jalan di depannya
Bulb. Aha! Saya tiba-tiba teringat cerita di salah satu buku pentalogi Gadjah Mada karangan Langit Kresna Hariadi mengenai legenda kabut. Di sana diceritakan, bahwa suatu malam kabut tebal menyelimuti kerajaan Majapahit. Dua orang sesepuh di desa yang tak jauh dari lokasi kerajaan berbincang mengenai kabut itu. Salah seorang di antaranya mengatakan bahwa kabut tebal semacam itu adalah pertanda akan mangkatnya seorang penguasa. Yang lain akhirnya membenarkan saat ia teringat kabut tebal juga menyelimuti Majapahit saat akan mangkatnya Raden Wijaya. Rupanya, ilmu titen kedua sesepuh tersebut benar. Keesokan harinya, Sri Gitarja Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardhani dikabarkan mangkat.
Ah, tapi itu kan jaman dulu, di buku cerita pula. Ya, memang. Tapi saya rasa tidak mungkin membuat buku seperti itu, yang meskipun seperti dongeng, tapi tanpa riset. Di samping itu, saya (masih) percaya bahwa alam memang selalu membawa kabar bagi manusia hanya saja manusia sekarang sudah kurang titen.
Tapi rupanya ilmu titen jaman Majapahit tidak lagi berlaku. Seharian ini saya tunggu, tidak juga ada kabar mengenai wafatnya seseorang yang cukup berpengaruh di negeri ini. Wah, sebenarnya saya agak kecewa. Hehe. Bukan berharap ada yang wafat juga sih, tapi ya itu tadi, saya merasa kabut tadi membawa pesan.. Tapi apa?
Dan ketika sore tadi hujan duueeerrraaasss mengguyur (sayang, saya tidak mengabadikannya, eman2 hape. hehe), saya jadi berprasangka, apakah ini tanda alam yang dimaksud? Kabut tebal tadi pagi menandakan hujan deras sore hari? Karena memang kabut yang membatasi jarak pandang saya tadi pagi sama persis dengan hujan yang juga membatasi jarak pandang saya sore ini. Jadi, mungkin memang sudah beda titenan dengan jaman Majapahit.
Allahu a’lam. Tapi saya ingin membuktikannya lagi lain kali!
“Alam.. Masih maukah engkau berbicara pada kami??”
Saya malu.
Ke mana saja selama ini mata ini memandang?
Ke mana saja kepekaan hati?
Ke mana saja tangan ini menjabat?
Ke mana kaki ini melangkah?
Saya?
Seseorang yang melihat banyak orang luar biasa di luar sana.
Saya kagum, terkesima.
Hati ini meretas takjub memandang mereka.
Terlena, terbuai.
Tangan ini menjabat mereka dengan erat, kuat.
Genggamannya bahkan mampu mengirimkan pesan “Ini jembatan kita menuju surga-Nya”
Kaki ini berjalan terkadang berlari mengejar berbagai urusan
“Berpaculah dengan waktu!”
Hampir setiap hari indera raga ini melakukannya.
Nyaris mati sepertinya, sampai ketika siang itu saya tergugah.
Allah masih (seperti biasa) sangat baik sekali pada saya.
Ia mengarahkan saya dengan cubitan kecil di dada.
Kecil, seperti gigitan semut saja.
Siang itu, Allah melembutkan hati saya dengan lelehan air mata tanpa suara.
Bening dan murni.
Tangan saya diajak-Nya meraba punggung yang telah lama membutuhkan penegak
Kaki saya menapak erat
Andai saya punya cakar, akan saya cengkeramkan kuku saya di sana.
Seseorang berhasil mengingatkan kembali ke mana indera ini seharusnya diutamakan.
Kepada mereka.
Orang tua saya.
BAPAK dan MAMA saya.
Dua orang paling penting dalam hidup saya yang seharusnya saya prioritaskan, seharusnya saya banggakan, seharusnya saya kagumi setelah beliau Muhammad rasulullah shalallah ‘alaihi wa salam.
…
Maafkan saya, terlalu lama terbang
Sampai-sampai seolah lupa jalan pulang….
Yes, saya hampir saja lupa kalo saya punya blog! Hehe. Sudah berapa tahun ya nggak saya update? Padahal selama itu saya melakukan banyak hal. Hmh, sayang sekali tak terekam. Tak apalah. Setelah ini saya akan coba nge-blog lagi. Oalaah, ngeblog dari jaman SMA kok nggak pernah bener. Bzzz… -_-
Asumsi ini saya dapat ketika saya berbelanja di swalayan dekat rumah kemarin sore. Seperti layaknya swalayan pada umumnya, swalayan dengan nama P (inisial sebenarnya) ini memiliki beberapa lorong. Setiap lorong memiliki klasifikasi barang tertentu untuk memudahkan konsumen mencari barang yang diinginkan.
Di sana saya sedikit terdiam ketika saya punya kesempatan mengamati salah satu lorong. Di lorong tersebut berjajar berbagai produk minuman instan, seperti kopi, teh, susu, dan sirup2. Banyak sekali merk dan jenisnya. Tapi yang paling menarik adalah, mata saya yang menyapu lorong melihat banyak hal yang NAMPAK-BEDA-NYATA-SAMA. Rupanya hampir setiap merk mengeluarkan produk minuman dengan embel-embel: LOW-FAT. Wow! Ini membuat saya jadi bertanya, “Kenapa banyak produk semacam itu ya? Yang saya tahu, sebelum perusahaan membuat produk baru, pasti ada survey dulu terhadap kebutuhan dan keinginan masyarakat. Apa ini bisa diartikan sebagai cerminan kebutuhan masyarakat terhadap barang-barang berlabel LOW-FAT?”
Studi yang dilakukan Himpunan Studi Obesitas Indonesia pada tahun 2004 yang melibatkan lebih dari enam ribu orang menyatakan penderita obesitas mengalami kenaikan sampai 11,4% dihitung sejak tahun 1989 (http://www.antara.co.id/view/?i=1241614095&c=NAS&s=KES). Saya pikir inilah salah satu alasan logis terciptanya banyak produk semacam itu. Banyaknya orang gemuk rupanya berbanding lurus dengan kebutuhan akan barang-barang serba low-fat.
Lantas apa hubungannya kegemukan dengan sikap suka menyalahkan orang lain?
Begini. Dalam ilmu Psikologi ada sebuah teori menarik, Self Serving Bias namanya. Teori ini menyebutkan, bahwa suatu keberhasilan dicapai karena usaha diri sendiri atau diatribusikan secara internal. Sedangkan sebaliknya, apabila terjadi kegagalan maka hal tersebut akan diatribusikan secara eksternal, atau bahasa lainnya kegagalan lebih disebabkan faktor lingkungan.
Maka, jika kita kaitkan permasalahan di awal, yaitu mengenai kegemukan, dengan teori Self Serving Bias, maka akan terjadi:
orang-orang gemuk = memilih produk LOW-FAT = Self Serving Bias
Alasannya? Karena orang tersebut merasa bahwa kegagalan mereka menjaga atau menurunkan berat badan adalah karena kesalahan lingkungan. Lingkungan adalah pihak yang harus bertanggung jawab terhadap kegemukan, sehingga muncullah permintaan pasar mengenai produk-produk low-fat. Atau dalam artian lain, kegemukan adalah salah lingkungan sehingga lingkungan juga harus bertanggung jawab ‘menurunkan’ berat badan dengan mengeluarkan produk-produk low-fat.
Lalu?
Coba amati lagi definisi dari Self Serving Bias. Saya kok merasa begitu picik ya, orang yang melakukan Self Serving Bias. Bayangkan ketika suatu keberhasilan hanya ditentukan oleh diri sendiri dan kegagalan merupakan kesalahan orang lain, bijakkah sikap seperti itu? Tidak adakah dukungan lingkungan ketika tercapai suatu keberhasilan atau tidakkah dilakukan introspeksi diri ketika ada kegagalan?
Begitu juga dengan kasus kegemukan di atas. Menurut saya, yang seharusnya diperbaiki bukanlah kandungan makanan ataupun minumannya. Bukan susunya yang seharusnya berlabel LOW-FAT, bukan juga kopinya yang tanpa gula, tapi apa yang dimakan dan bagaimana polanya yang seharusnya perlu diperhatikan.
Saya rasa meningkatnya angka obesitas, sebenarnya lebih disebabkan oleh pola makan yang salah. Lingkungan memang turut andil dalam hal ini karena ‘menyediakan’ banyak makanan enak yang tidak sehat, tapi kita sebagai manusia punya akal, punya kesempatan memilih. Kontrol diri terhadap bujuk rayu lingkungan sepertinya lebih solutif daripada menggantungkan diri pada produk-produk berlabel LOW-FAT.
(Anyway, jadi menguliahi diri sendiri nih, hehe =p)
Seorang kawan bertanya padaku,
“Menurutmu, Indonesia tu gimana sih? Harusnya gimana ya?”
Ah, pertanyaannya retoris. Aku hanya menjawabnya dengan senyum. Ia melanjutkan bicaranya.
“Orang-orangnya yang korupsi kaya sekarang nih, gimana ya menurutmu?”
Aku masih tersenyum. Entah retoris dan bukan. Yang jelas sebenarnya aku hanya malas menjawab. Kurasa kawanku yang satu itu lebih pandai melontarkan bahkan menjabarkan jawaban. Iseng sekali dia bertanya padaku. Tapi melihat ia menunggu jawaban, aku pun menyerah.
“Kata temanku, potong satu generasi! Dan aku setuju dengan itu. Hapus orang-orang yang sedang duduk ‘di sana’, gantikan dengan mereka yang baru. Orang-orang muda dengan idealisme yang tinggi. Kamu mungkin?”, jawabku diiringi tawa renyah.
“Potong generasi? Mungkin ya…”
“Kalau isinya tetap seperti sekarang, mantan-mantan mahasiswa yang dulunya aktif di BEM, rajin demo, rajin menyuarakan keadilan dan bla-bla-bla, ketika masuk ke pemerintahan yang seperti sekarang, ah dia akan ikut sistem! Korupsi itu sistem! Untuk mengubahnya nggak cukup seorang-dua orang-tiga orang. Satu partai-dua partai pun belum tentu bisa. Tapi kalau kamu dan teman-temanmu dan kita bisa bertahan dengan idealisme seperti saat ini mungkin saja Indonesia berubah..”
“Hm..”
Benarkah ‘teori’ku? Korupsi dan lain2 sudah menjadi sistem di pemerintahan kita. Karena tiap melihat berita, isinya selalu saja tentang korupsi, korupsi, dan korupsi. Sepertinya tidak afdhol kalau tidak ikut korupsi di pemerintahan. Mengejar kekayaan? Terpaksa? Melupakan hati? ..dan pertanggungjawaban? Ah..
Bagaimanakah keadaan di sana? Sepertinya sulit sekali mempertahankan kebenaran.
Tapi yang bersih? Tetap ada.. Dan semoga segera membawa perubahan yang nyata. Efek domino kebaikan yang menyebar dan mengubah sistem. Persembahkan Indonesia indah untuk anak, cucu, cicit kita… Amiin..
“Kehebatan suatu bangsa bukanlah dinilai oleh diri sendiri, tetapi merupakan hasil dari penilaian orang lain”
hari/tanggal : ahad, 24 Mei 2009waktu : 07.30 - 13.00 WIBtempat : Auditorium Fakultas Psikologi UGM acara : seminar nasional “psychology of Nation”
Berbagi cerita dan ilmu adalah hal yang selalu kunanti. Kapan pun, di mana pun, dengan siapa pun, selama hal tersebut bisa me-refresh otak, aku akan selalu mencoba untuk menghargainya.
Begitu pun ketika Syakaa Organizer mengadakan Jogja Islamic Book Fair untuk kesebelas kalinya. Wow. Luar biasa! Insya Allah, mulai tanggal 1 sampai 7 Mei 2009 mendatang, Gedung Mandala Bhakti Wanitatama bisa diprediksi akan penuh dengan orang-orang yang haus ilmu. Subhanallah.. ^_^
Dengan alasan tersebut (ahaha), aku dan seorang teman kemarin ikut mendatangi pameran tersebut. Sebenarnya aku lupa bahwa pada hari itu kami sudah janjian. Untunglah saat diingatkan temanku, uang di dompet sedang dalam keadaan tidak terlalu mepet, mama juga kebetulan nitip dibelikan sate Domba Afrika (btw, enak loo. Yah, worth it lah sama harganya
), jadi bisa dipinjam dulu uangnya. Hihi.
Singkat cerita, kami berdua sampai di TKP (Tempat Kejadian Pameran). Mulailah mata kami menjalari buku-buku yang dipajang. Begitu menggiurkan. Kalau bawa uang sejuta, mungkin buku-buku itu akan kuborong. Hehe. Tapi alhamdulillah, uang di dompet bisa menjadi pengendali nafsuku saat itu. Hehe.
Akhirnya sampailah kami di sebuah stand. Di sana aku menemukan banyak buku ‘lezat’. Tapi rupanya ‘hanya’ dua buku yang mampu membuatku mantabh untuk membelinya (aslinya sih karena belum mencermati semua stand saja. Hehe). Dan aku tidak menyesaall! Yes! Kedua buku tersebut KEREN skalii. Republik Genthonesia dan Prophetic Learning. Keduanya belum selesai kubaca, tapi dari hasil scanning-ku, Republik Genthonesia (Note: gentho dalam bahasa Jawa berarti preman) berisikan kritik-kritik tajam terhadap permasalahan yang dihadapi bangsa ini, baik masalah moral, agama, ataupun sosial dengan bungkus yang cukup segar dan tidak menggurui bahkan cenderung berisi humor yang cukup sarkastik menurutku. Sedangkan Prophetic Learning berintikan “cara belajar yang benar bagi seorang muslim”. Buku cerdas harus dibaca sampai tuntas!
Anyway, aku jadi ingin sedikit berbagi ilmu yang kudapat dari 20 halaman Prophetic Learning yang sudah kubaca (tuh kan, baru 20 halaman saja sudah bisa membuatku berapi-api. Hehe). Ada satu hal menarik yang ditulis Dwi Budiyanto di sana. Sebuah pertanyaan yang sangat sentral, yaitu mengapa pengetahuan yang selama ini kita pelajari tidak terlihat di keseharian tingkah laku kita? Dwi bahkan pernah bertanya pada seorang calon doktor dari Psikologi, kenapa beberapa orang psikologi justru tidak bisa berempati selaiknya orang-orang yang tidak mempelajarinya secara khusus? Dan apa jawaban sang calon doktor? “Kan psikologi untuk Anda!”. WHAT?! Aku benar-benar tidak habis pikir dengan jawaban itu. Tapi meskipun cukup pathetic, dari jawaban itu kita justru bisa menangkap benang merah permasalahan di sini: jarak yang masih cukup jauh antara pengetahuan yang kita pelajari dengan pola pikir dan pola sikap.
Seperti yang dikutip Dwi Budiyanto dari buku milik Anis Matta, Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga, yang diambil dari gagasan Imam al-Ghazali, ada tiga tahapan untuk memasuki wilayah kepribadian seseorang:
1. Teori
2. Aplikasi
3. Pengalaman
Selama ini yang kita pelajari hanya melulu teori-teori-dan teori dengan jarang kita tahu aplikasi dari teori-teori tersebut. Dengan tanpa pernah tahu aplikasinya, apakah mungkin kita mendapatkan pengalaman? Aku rasa itulah sebabnya muncul ketidaksinkronan antara ilmu dengan sikap yang dipertanyakan Dwi Budiyanto dan Dea Siti Hafsha :P.
Mungkin inilah alasan salah seorang dosenku menekankan pengaplikasian dari berjubel teori yang telah beliau sampaikan. Kami selalu ditekan untuk bisa memberi contoh kasus dari teori-teori tersebut. Saking concern-nya pada masalah aplikasi teori, seorang kerabatnya dari Swiss bernama Lillemor Adrianson, yang saat itu menjadi dosen tamu di kelas kami, menceritakan hal tersebut. Aku jadi semakin bangga pada dosenku yang satu itu. Prof. Djamaludin Ancok, Ph.D rupanya benar-benar berusaha mengaplikasikan teori yang sudah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari dan menyebarkan ‘virus’ tersebut pada orang banyak. Alasannya? Agar ilmu yang dipelajari benar-benar bermanfaat.
Ayoo, bersama-sama kita mencari aplikasi dari teori yang sudah kita pelajari! Insya Allah, pengalaman akan mudah didapat dan ilmu akan terinternalisasi pada diri pribadi sehingga akan berguna bagi nusa, bangsa, agama, dunia, dan akhirat! Amiin..
nb: kalau nanti ada hal menarik dari kedua buku tersebut, kuusahakan untuk kuposting lagi. tunggu ya!
Aku percaya bahwa tidak ada suatu KEBETULAN di dunia ini. Semua terjadi atas kehendak dan perintah-Nya. Aturan yang Ia mainkan tidak pernah main-main. Selalu ada hikmah yang bisa kita pelajari di belakanganya. Seperti ketika mengikuti training. Ada game, ada pemaknaan. Dan seperti itulah dunia, itulah representasi kehidupan, bagiku. Di tangan-Nya nyawaku tergenggam. Di kuasa-Nya segala sesuatu terjadi.
Bukanlah suatu kebetulan apabila aku bertemu dengan orang-orang hebat yang pernah kukatakan sebelumnya. Mereka adalah teman-temanku. Di mataku semua temanku hebat, mereka luar biasa, mereka adalah orang-orang sukses. Sukses bukan berarti tidak pernah terantuk batu saat belajar berjalan, atau kepleset saat mencoba berlari. Tapi kemampuan mereka untuk bangkit, untuk mengingatkan aku di sini yang belum apa-apa, itulah sukses. Sukses mengajarkan pada orang lain apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang seharusnya dihindari.
Kamu bilang ini kebetulan, kita bisa berkenalan, Kawan?
Kau salah.
Tuhan sudah menyiapkan jalur indah bagi kita. Ia akan selalu memayungi kita dengan hal-hal yang kita anggap KEBETULAN. Tapi kebetulan bagi kita, adalah rencana bagi Tuhan. Inilah tangan Tuhan yang bergerak. Perlahan menuntun kita menyelesaikan jalur ini dengan segala fasilitasnya. Begitu indah.
Maka bukanlah suatu kebetulan, ketika aku mengatakan AKU MENCINTAIMU, itulah perasaanku. Aku benar-benar cinta padamu. Bukan pula kebetulan, ketika aku bilang AKU SANGAT SENANG BERKENALAN DENGANMU, maka itulah yang sesungguhnya terjadi. Tidak pernah ada penyesalan dalam diriku sempat berkenalan denganmu
Kasih sayang ini indah, kawan. Dan Ia yang mempertemukan kita.
..
..
Inikah yang dinamakan
…FILLAH?
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Feb | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 |
| 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 |
| 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 |
| 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 |
| 29 | 30 | 31 | ||||




