Asumsi ini saya dapat ketika saya berbelanja di swalayan dekat rumah kemarin sore. Seperti layaknya swalayan pada umumnya, swalayan dengan nama P (inisial sebenarnya) ini memiliki beberapa lorong. Setiap lorong memiliki klasifikasi barang tertentu untuk memudahkan konsumen mencari barang yang diinginkan.
Di sana saya sedikit terdiam ketika saya punya kesempatan mengamati salah satu lorong. Di lorong tersebut berjajar berbagai produk minuman instan, seperti kopi, teh, susu, dan sirup2. Banyak sekali merk dan jenisnya. Tapi yang paling menarik adalah, mata saya yang menyapu lorong melihat banyak hal yang NAMPAK-BEDA-NYATA-SAMA. Rupanya hampir setiap merk mengeluarkan produk minuman dengan embel-embel: LOW-FAT. Wow! Ini membuat saya jadi bertanya, “Kenapa banyak produk semacam itu ya? Yang saya tahu, sebelum perusahaan membuat produk baru, pasti ada survey dulu terhadap kebutuhan dan keinginan masyarakat. Apa ini bisa diartikan sebagai cerminan kebutuhan masyarakat terhadap barang-barang berlabel LOW-FAT?”
Studi yang dilakukan Himpunan Studi Obesitas Indonesia pada tahun 2004 yang melibatkan lebih dari enam ribu orang menyatakan penderita obesitas mengalami kenaikan sampai 11,4% dihitung sejak tahun 1989 (http://www.antara.co.id/view/?i=1241614095&c=NAS&s=KES). Saya pikir inilah salah satu alasan logis terciptanya banyak produk semacam itu. Banyaknya orang gemuk rupanya berbanding lurus dengan kebutuhan akan barang-barang serba low-fat.
Lantas apa hubungannya kegemukan dengan sikap suka menyalahkan orang lain?
Begini. Dalam ilmu Psikologi ada sebuah teori menarik, Self Serving Bias namanya. Teori ini menyebutkan, bahwa suatu keberhasilan dicapai karena usaha diri sendiri atau diatribusikan secara internal. Sedangkan sebaliknya, apabila terjadi kegagalan maka hal tersebut akan diatribusikan secara eksternal, atau bahasa lainnya kegagalan lebih disebabkan faktor lingkungan.
Maka, jika kita kaitkan permasalahan di awal, yaitu mengenai kegemukan, dengan teori Self Serving Bias, maka akan terjadi:
orang-orang gemuk = memilih produk LOW-FAT = Self Serving Bias
Alasannya? Karena orang tersebut merasa bahwa kegagalan mereka menjaga atau menurunkan berat badan adalah karena kesalahan lingkungan. Lingkungan adalah pihak yang harus bertanggung jawab terhadap kegemukan, sehingga muncullah permintaan pasar mengenai produk-produk low-fat. Atau dalam artian lain, kegemukan adalah salah lingkungan sehingga lingkungan juga harus bertanggung jawab ‘menurunkan’ berat badan dengan mengeluarkan produk-produk low-fat.
Lalu?
Coba amati lagi definisi dari Self Serving Bias. Saya kok merasa begitu picik ya, orang yang melakukan Self Serving Bias. Bayangkan ketika suatu keberhasilan hanya ditentukan oleh diri sendiri dan kegagalan merupakan kesalahan orang lain, bijakkah sikap seperti itu? Tidak adakah dukungan lingkungan ketika tercapai suatu keberhasilan atau tidakkah dilakukan introspeksi diri ketika ada kegagalan?
Begitu juga dengan kasus kegemukan di atas. Menurut saya, yang seharusnya diperbaiki bukanlah kandungan makanan ataupun minumannya. Bukan susunya yang seharusnya berlabel LOW-FAT, bukan juga kopinya yang tanpa gula, tapi apa yang dimakan dan bagaimana polanya yang seharusnya perlu diperhatikan.
Saya rasa meningkatnya angka obesitas, sebenarnya lebih disebabkan oleh pola makan yang salah. Lingkungan memang turut andil dalam hal ini karena ‘menyediakan’ banyak makanan enak yang tidak sehat, tapi kita sebagai manusia punya akal, punya kesempatan memilih. Kontrol diri terhadap bujuk rayu lingkungan sepertinya lebih solutif daripada menggantungkan diri pada produk-produk berlabel LOW-FAT.
(Anyway, jadi menguliahi diri sendiri nih, hehe =p)








